Dedi Mulyadi Tak Lagi Bantu Operasional Masjid Raya Bandung

1 day ago 6

Banudn, CNN Indonesia --

Terhitung sejak Januari 2026, Mesjid Raya Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, sudah tidak lagi menerima bantuan operasional dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) di bawah pimpinan Dedi Mulyadi. Alasannya, mesjid tersebut bukan merupakan aset milik Pemprov, melainkan tanah wakaf.

Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung Roedy Wiranatakusumah mengatakan mesjid yang sempat menjadi ikon Jabar ini sementara waktu mengandalkan infaq dan sedekah dari jemaah yang turut memakmurkan mesjid tersebut.

"Per Januari ini kita hanya mengandalkan kencleng, donasi, atau kerja sama dengan pihak luar yang fokus untuk melanjutkan keberadaan masjid ini," kata Nadzir dalam konferensi pers, Selasa (6/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengungkapkan setiap bulan, pengurusan mesjid tersebut menghabiskan dana yang tidak sedikit. Setidaknya pengurus harus menyiapkan uang dengan nominal menyentuh Rp200 juta rupiah.

Anggaran sebanyak itu dipakai untuk diantaranya perbaikan bangunan, membayar gaji pegawai yang lebih dari 20 orang, air, hingga listrik.

Namun ia tidak mempermasalahkan kebutuhan tersebut. Meski begitu, tidak dipungkiri jika ia pun berharap pemerintah dapat membantu untuk pengurusan mesjid yang ia gadang-gadang merupakan salah satu mesjid bersejarah di Kota Bandung.

"Ini merupakan bangunan warisan yang kondisinya harus diketahui publik, maka seluruh stakeholder harus tahu sehingga ini jemaah istilahnya dipaksa agar jemaah harus bersedekah karena kita juga harus bayar listrik dan air," paparnya.

Sementara itu, Pemkot Bandung tengah bersiap untuk mematangkan arah pengembangan Masjid Raya Bandung sebagai ruang ibadah yang aktif menghidupkan kegiatan seni budaya berbasis religi.

Pengembangan itu disampaikan langsung oleh Walikota Bandung M Farhan beberapa waktu lalu.

"Hal yang paling penting dari masjid itu adalah isinya dulu. Ruang fisiknya sudah sangat luas, 12 ribu orang. Nah, bagaimana caranya energi 12 ribu ini bisa betul-betul terasa sampai 120 ribu. Jadi kita mesti banyak membuat kegiatan-kegiatan budaya berbasis religi," ujar Farhan melalui siaran pers.

Salah satu kegiatan yang akan kembali dihidupkan adalah festival bedug, yang disebut Farhan mulai jarang digelar di Kota Bandung. Ia akan berkomunikasi dengan Gubernur Banten untuk memperkaya konsepnya.

"Contohnya festival bedug. Itu sudah jarang di Bandung. Nanti ada Disbudpar akan bikin festival bedug di sini. Kami juga ngobrol dengan Pak Gubernur Banten karena salah satu bedug yang paling bagus se-Indonesia ada di Banten," jelasnya.

Farhan menilai, pendekatan kebudayaan ini akan menjadi jiwa yang mengisi suasana khas Masjid Raya Bandung ke depan.

"Percuma kita bicara fisik apabila jiwanya tidak ada. Kita isi dulu jiwanya," ucapnya.

Dilansir dari laman resmi DPRD Kota Bandung, sejarah mesjid raya Bandung, cukup panjang. Mesjid tersebut diketahui dibangun pada 1812.

Bangunan mesjid, didirikan dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhu.

Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Pengelolaan Masjid Agung pada masa itu secara instansi dikelola oleh Bupati dan operasionalnya dilimpahkan kepada orang yang menjabat sebagai Penghulu Bandung.

Sejak didirikannya, Masjid Agung telah mengalami 8 kali perombakan pada abad ke-19, kemudian 5 kali pada abad 50.

(csr/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |