Janda Sebatang Kara Asal Maros Jadi Ikon Haji Arab Saudi

2 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Di bawah terik langit Makkah, Jumariah berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang ia kenakan. Jantung perempuan lanjut usia itu berdebar kencang saat kakinya melangkah masuk pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5). 

Momen magis itu pun akhirnya tiba. Air mata Jumariah tumpah berlinang ketika bangunan kubus terbungkus kain kiswah hitam megah tegak berdiri persis di depan matanya.

Itulah pemandangan yang ia panjatkan dalam doa selama puluhan tahun silam. Sebuah mimpi yang ia rawat dalam kesendirian, sejak ia berpisah dengan sang suami dan menjalani hidup sebatang kara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya senang bisa melihat Ka'bah," ucapnya lirih saat ditemui tim Kementerian Haji di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, tempat menginapnya bersama jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14, atau UPG-14.

Kenangan melihat Baitullah itu kembali membuat matanya berkaca-kaca, sebelum jemari rentanya dengan cepat menyeka air mata itu lagi.

Hidup sebatang kara

Jumariah adalah jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ingatannya tak lagi tajam untuk merinci angka pasti usianya, ia hanya mengingat dirinya kini berada di kisaran 70-an tahun.

Di kampung halaman, Jumariah hidup sebatang kara. Saban pagi usai fajar menyingsing, ia memulai ritual hidupnya: memberi makan ayam-ayam peliharaan, membersihkan rumah panggungnya, dan memasak sarapan untuk dirinya sendiri.

Tepat pukul 9 pagi, ia mulai menguji fisiknya. Bermodal sabit, Jumariah merawat kebun ubi milik tetangganya, lalu berjalan 50 meter lagi menuju sawah miliknya yang hanya seluas 15 are untuk menyiangi padi.

"Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin," kenangnya seraya melempar senyum manis.

Namun, di balik kesendirian itu, Jumariah sadar ia tidak pernah benar-benar sebatang kara. Ada Tuhan yang selalu menemaninya. Iman itulah yang menggerakkan tekadnya untuk menginjakkan kaki di rumah-Nya, sekecil apa pun celah kesempatan yang ia miliki.

Menabung dalam ember

Jumariah tidak bisa membaca maupun menulis. Jangankan ijazah, ia bahkan tak pernah sedetik pun mengecap bangku sekolah. Namun, ketidakberdayaan itu kalah oleh keteguhan niatnya yang dimulai 20 tahun lalu.

Secara sembunyi-sembunyi, Jumariyah mengumpulkan pundi-pundi uang hasil keringatnya di dalam sebuah ember di rumahnya. "Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember," tuturnya polos.

"Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu," ujarnya.

Pada tahun 2011, setelah isi embernya menyentuh angka Rp25 juta, ia memberanikan diri mendaftar haji, dituntun oleh kemenakan jauhnya. Sejak hari pendaftaran itu, ritme menabungnya justru kian menggila demi melunasi sisa biaya pelunasan.

Ketika namanya resmi tercantum sebagai jemaah yang berangkat pada musim haji 2026, semangatnya meledak. Jarak 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik tak dipedulikannya. Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ia lahap tanpa absen sekalipun. Jumariah selalu duduk di barisan paling depan, menyimak lamat-lamat setiap arahan muthawwif.

Kini, langkah kaki Jumariyah sedang bersiap menuju rute terakhir dari penantian panjangnya: wukuf di Padang Arafah. Kurang dari sepuluh hari lagi, di bawah hamparan langit Arafah, janda sebatang kara ini akan berdialog langsung dengan Tuhannya, menuntaskan kerinduan yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di dalam sebuah ember tabungan.

Ikon promosi haji di Saudi

Kisah perjalanan dan perjuangan Jumariah menuju ibadah haji telah diangkat ke dalam dokumenter.

Kegigihan sang nenek akhirnya mengetuk pintu perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Maros.

Profilnya yang luar biasa itu kemudian diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai pemeran dalam video dokumenter "Makkah Route".

"Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi," ungkap Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.

Hanya butuh waktu empat jam bagi tim dokumenter untuk merekam kehidupan bersahaja Jumariah di Maros. Siapa sangka, video singkat tentang nenek pencari ubi ini kini bertransformasi menjadi materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026. Jumariah pun kini telah menjadi ikon.

(gil)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |