KH Zainur Arifin dari Panglima Santri hingga Jadi Pahlawan Nasional

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

'Dor!'

Terjangan peluru panas pada salat Iduladha 14 Mei 1962 menjadi awal dari hari-hari terakhir KH Zainul Arifin Pohan--Panglima Hizbullah pada masa Revolusi Fisik Kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa yang melukai Panglima Santri itu terjadi saat gelaran Salat Iduladha rakaat kedua kala itu. Pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII yang menargetkan untuk membunuh Sukarno. Sukarno dan Zainul yang kala itu Ketua DPR Gotong Royong (DPR-GR) berada di saf terdepan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah wafat, keturunan Raja Barus di Tapanuli itu kemudian didaulat jadi Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 35 Tahun 1963 pada 4 Maret 1963.

KH Zainul Arifin merupakan politikus dan ulama senior Nahdlatul Ulama (NU) saat itu. Sebelum menjadi Ketua DPR GR pada 1960 hingga 1963, dia adalah Wakil Perdana Menteri pada 1953-1955.

Sebagai pejuang kemerdekaan, dia adalah pemimpin Laskar Hizbullah yang pasukannya adalah para santri. Dia juga dikenal sebagai pembentuk jaringan tonarigumi yang kemudian jadi cikal bakal Rukun Tetangga (RT) saat ini hingga pelosok desa di Jawa.

Kala itu tonarigumi menjadi salah satu alat untuk membantu perjuangan melawan Belanda selama Agresi Militer I dan II.

Kiprah di NU dan perjuangan kemerdekaan

Rekam jejaknya bersama NU dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik, seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda NU.

Dari Anshor, karena keahliannya berdiplomasi, berkomunikasi, dan berdakwah, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim, Kiai Mahfud Shiddiq, Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid.

Kemudian, Zainul Arifin menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara yang kala itu wilayah tersebut masih dikenal dengan sebutan Masteer Conelis, serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia (saat ini Jakarta), hingga masuknya Jepang ke Indonesia pada 1942.

Setelah proklamasi kemerdekaan, KH Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), cikal bakal lembaga legislatif DPR/MPR.

Dia kemudian menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamijoyo I (1953-1955).

Setelah Pemilu 1955, Zainul Arifin mewakili NU dalam Majelis Konstituante, hingga lembaga tersebut dibubarkan Presiden pertama RI Sukarno lewat Dekrit 5 Juli 1959 karena dipandang gagal merumuskan UUD baru.

Memasuki era Demokrasi Terpimpin, Zainul Arifin menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen.

KH Zainul Arifin Pohan merupakan anak tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan, dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution.

Ketika Zainul kecil, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian ke Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan pendidikannya di Hollands Indische School (HIS), serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Zainul lalu merantau ke Batavia, dan dengan bekal ijazah HIS dia bisa bekerja untuk pemerintah kotapraja kolonial (Gementee) di perusahaan air minum Pejompongan.

Dia lalu keluar dari Gementee, dan bekerja sebagai guru sekolah dasar. Dia juga mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, yang bertempat di kawasan Masteer Cornelis (saat ini Jatinegara, Jakarta Timur).

Kemudian dengan keahliannya bernegosiasi dan berbahasa Belanda, Zainul terlibat dalam advokasi bagi warga Betawi lewat Pokrol Bambu.

Hari-hari terakhir

Saat itu- Rabu pagi 14 Mei 1962-KH Zainul pergi ke masjid Baiturrahim di Istana Negara, Jakarta, untuk ikut salat Iduladha.

Mulanya salat Id berlangsung aman hingga memasuki rakaat kedua, dari bagian kiri saf ketiga terdengar teriakan seorang jemaah seraya mengacungkan pistol dari betis kanannya.

Aksinya akan menembak Sukarno berhasil ditepis pengawal presiden, sehingga tembakannya melenceng dari target. Di saf terdepan, KH Zainul Arifin jatuh tersungkur dengan bahu kiri merembes dari kemeja putih hingga jas luarnya.

"Saya kena...," desahnya pasrah dikutip dari NU Online, "La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim."

Sejak jadi korban tembakan itu, KH Zainul berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Sepuluh bulan kemudian, pada 2 Maret 1963, dia meninggal dunia setelah koma beberapa hari sebelumnya karena komplikasi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.

(kna/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |