Jakarta, CNN Indonesia --
Koalisi Masyarakat Sipil mengecam keras dan mendesak agar kasus penyiraman air keras kepada Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus untuk diusut tuntas.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya menyebut aksi teror yang dialami oleh Andrie menjadi tanda hilangnya iklim demokrasi di Indonesia. Ia juga menyoroti masih adanya teror dan intimidasi yang diterima KontraS selama 28 tahun.
"Saya mau menyampaikan bahwa situasi ini bukan alarm lagi, di sini semua berkumpul bukan menyampaikan kita ada di alarm demokrasi, inilah jurang demokrasi inilah titik nadir demokrasi," ujarnya, dalam konferensi pers, Jumat (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya cuma mau bilang satu. KontraS selalu menempuh, mengalami sejumlah teror yang tentu ini perlu diusut, tentu pelakunya harus diusut," imbuhnya.
Ia lantas meminta aparat penegak hukum benar-benar serius mengungkap kasus ini. Dimas menyebut aksi teror yang terjadi itu tidak akan pernah menghentikan langkah KontraS yang sudah dibangun 28 tahun.
"Kami meminta akuntabilitas penegakan hukum kepada negara kami meminta keseriusan negara untuk serius terhadap perlindungan HAM, kami juga meminta, supaya rezim hari ini yang mau dan sudah membuat Kementerian HAM itu mau berdiri bersama para pembela HAM," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid meminta agar pengusutan kasus Andrie dilakukan secara cermat.
"Kami ada di sini untuk mengutuk keras serangan air keras terhadap Andrie Yunus. Serangan ini bukan pertama kali dialami Andrie Yunus," jelasnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, Usman menyebut Andrie memang kerap bersinggungan dengan isu militer. Akan tetapi, ia menyebut bukan berarti pelakunya sudah pasti dari pihak tentara.
"Jadi kita harus investigasi serius dan biasanya teror muncul di tengah ketegangan konflik elite politik. Ini yang harus kita cermati untuk kita hubungkan terhadap serangan Andrie Yunus," katanya.
Terakhir, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur menilai Andrie sebagai sosok yang berani.
Isnur mengaku sudah berkomunikasi dengan Polisi setelah aksi penyiraman terhadap Andire. Karenanya ia mendesak agar Polisi bisa mengungkap pelaku dan dalang di balik penyerangan ini.
"Dari semalam kami sudah melihat dan berkomunikasi dengan polisi mereka sudah mengambil semuanya. Seharusnya tidak ada hambatan untuk mengungkap pelakunya dan siapa otak di belakang pelakunya, pertanyaannya apakah mereka berani mengungkap siapa di belakangnya," tuturnya.
"Maka kita mendesak Kapolri, Kapolda gunakan seluruh kemampuan reserse Anda untuk mengungkap ini agar terbukti bahwa polisi itu ada. Agar Anda bilang reserse itu punya kemampuan," sambungnya.
Sebelumnya Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3) malam.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya menyebut insiden itu terjadi usai Andrie Yunus menghadiri acara podcast berjudul "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sekitar pukul 23.00 WIB.
"Telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3).
Dimas mengatakan akibat insiden itu Andrie langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Ia menyebut dari hasil pemeriksaan Andrie menderita luka bakar sebanyak 24 persen.
"Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen," tuturnya.
Berdasarkan kronologinya, Dimas menyebut kejadian itu bermula ketika Andrie tengah mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat.
Ketika itu, dua orang pelaku menghampiri secara melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua, yakni diduga merupakan motor matic Honda Beat tahun 2016 sampai dengan 2021.
"Pelaku merupakan dua orang laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang," tuturnya.
Ia menyebut ciri-ciri dari terduga pelaku yang pertama mengenakan kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam.
Sedangkan pelaku kedua yakni penumpang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai 'buf' berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
"Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya," jelasnya.
(tfq/isn)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1
















































