Momen Eks Presiden RI Soekarno Nyaris Kena Tembak saat Salat Iduladha

14 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Momen menegangkan terjadi saat Iduladha 10 Zulhijah 1381 H pada 14 Mei 1962. Ketika itu Presiden ke-1 RI, Soekarno, hampir kena tembakan saat melaksanakan salat Iduladha di Istana Merdeka, Jakarta.

Bunyi letusan senapan terdengar di antara barisan jemaah yang sedang melaksanakan salat Iduladha di lapangan Istana Kepresidenan pada 14 Mei 1962. Ketika itu Presiden Soekarno dan sejumlah menteri sedang menjalani salat Iduladha.

Dikutip dari situs resmi PDI Perjuangan Jawa Timur, letusan senapan kali pertama terdengar saat jemaah dalam posisi gerakan rukuk. Bunyi letusan kembali terdengar beberapa kali. Barisan jamaah salat berhamburan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tembakan pertama meleset. Peluru justru mengenai Ketua DPRGR, Zainul Arifin," tulis Moehammad Goenawan dalam buku Detik-detik Paling Menegangkan diterbitkan tahun 2015.

Sumber lain menyebut, Zainul Arifin menjadi imam salat ketika itu. Tembakan itu membuat para pengawal melindungi Bung Karno. Tembakan kedua pun dilepaskan. Amoen, yang melindungi Presiden Soekarno dengan tubuhnya, tertembak di bagian dada.

Tembakan kembali terdengar untuk kesekian kalinya. Kali ini menyerempet kepala Soesilo. Dengan luka di kepala, Soesilo menerjang sang penembak yang dibantu dua pengawal lainnya. Walaupun terluka parah, Amoen dan Soesilo pada akhirnya selamat.

Peristiwa penembakan dilakukan dari jarak yang cukup dekat. Kejadian itu pula yang kemudian hari melahirkan satuan khusus pengamanan presiden.

Hal tersebut sebagaimana diceritakan Wakil Komandan Tjakrabirawa, H Maulwi Saelan seperti dalam buku autobiografinya yang ia tulis, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66.

Dalam bukunya, Maulwi Saelan, menjelaskan penembak berada dalam jarak 4 shaf (barisan dalam salat) dari Bung Karno.

"Ketika diperiksa, penembak mengaku melihat Bung Karno yang dibidiknya ada dua orang. Maka bingunglah ia hendak menembak yang mana," tulis Maulwi yang pernah menjadi kiper Timnas Sepakbola Indonesia saat berlaga di Olimpiade ke-16 Tahun 1956 di Melbourne, Australia melawan Timnas Uni Sovyet.

Peristiwa penembakan Iduladha itu pula yang membuat Menteri Pertahanan dan Keamanan Negara, Jenderal Abdul Haris Nasution mengusulkan kepada Presiden Sukarno untuk membentuk resimen kawal khusus yang bertugas menjaga keselamatan dan kemanan pribadi presiden dan keluarganya.

Resimen ini melibatkan prajurit-prajurit terbaik TNI dari empat angkatan: darat, laut, udara, dan kepolisian.

Usulan pun disetujui dan dibentuklah resimen kawal khusus bernama Tjakrabirawa. Nama tersebut diambil dari nama senjata tokoh pewayangan Kresna. Dalam bahasa Sansekerta, Tjakrabirawa berarti lingkaran dahsyat.

"Peristiwa Idul Adha ini kelak mengubah jalan hidup saya. Karena dengan alasan itu, saya dipindahkan dari Makassar ke Jakarta untuk membentuk Resimen Tjakrabirawa," tulis Maulwi.

(har)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |