Yogyakarta, CNN Indonesia --
Makam ayah mertua mendiang seniman kondang Djaduk Ferianto yang berlokasi di kawasan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta dirusak oleh juru kunci tempat pemakaman tersebut.
Peristiwa perusakan ini diketahui Bernadetta Petra, istri mendiang Djaduk, pada Selasa (11/8) pagi. Petra mengatakan, saat hendak nyekar atau berziarah, ia justru mendapati pusara ayahnya sudah dalam keadaan rusak.
"Saya kaget karena itu sudah di ditugel mejane (maesan dipatah)," kata Petra saat dihubungi, Rabu (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah sempat berkeliling mencari informasi mengenai keberadaan juru kunci, Petra kembali ke pusara ayahnya dan menemui tukang bersih-bersih makam.
"(Tukang bersih-bersih) yang kalau saya sudah selesai saya ngasih uang ke dia, dia selalu bilang dingge (buat) juru kuncine mana gitu. Selalu minta jatah untuk juru kuncinya. Terus saya tanya juru kuncinya mana? Di rumah, ya sudah saya tetap ngasih gitu kan," kata Petra.
Lantaran tak kunjung mendapat alamat si juru kunci, Petra kemudian mendatangi kantor kelurahan setempat untuk menanyakan kondisi makam ayahnya. Namun, kata dia, kompleks pemakaman tersebut ternyata bukan aset Pemerintah Kota Yogyakarta.
"Oleh kelurahan ditanya ini blok berapa nomor berapa, lha saya enggak bisa jawab karena memang tidak ada. Memang tidak ada (data legalitas)," katanya.
"Jadi itu itu tidak di bawahnya Pemkot ternyata, tapi langsung ke juru kunci," sambung Petra.
Petra mengatakan terdapat dua kompleks pemakaman di Pakuncen. Makam ayahnya berada di sebelah barat Masjid Kuncen dan disebut warga sebagai makam lama. Ayah Petra wafat dan dimakamkan di lokasi tersebut sejak 1971.
"Nah itu memang dari dulu tidak ada sewa. Ketika makam-makam di Jogja itu ada sewa, tempat itu tidak," imbuhnya.
Petra akhirnya melaporkan informasi yang diperolehnya sementara ke Polsek Wirobrajan. Tak lama berselang, petugas piket memberi kabar bahwa juru kunci sudah berada di lokasi makam.
Petra lantas menuju ke lokasi didampingi 4-5 petugas kepolisian. Di sana, ia justru mendengar pengakuan langsung dari si juru kunci yang mengaku telah merusak nisan makam ayah Petra.
"Saya ke sana ketemu juru kuncine ibu-ibu, terus bilang begini, "Niki nek mboten kula ngetenke jenengan rak mboten madosi kula toh? (Ini kalau makam tidak saya beginikan anda juga nggak akan mencari saya kan?), gitu," kata Petra menirukan omongan si juru kunci.
Petra mengaku bingung dan menanyakan maksud pernyataan tersebut. Menurut dia, juru kunci ternyata tidak berkenan karena selama ini Petra tak memberikan apa pun kepadanya.
Padahal, Petra mengaku tidak pernah bertemu dengan juru kunci tersebut. Ia hanya berziarah ke makam ayahnya pada momen-momen tertentu, seperti Selasa pagi yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Petra juga mengatakan baru belakangan ini berziarah pada pagi hari. Biasanya, ia sibuk bekerja, sedangkan pada Minggu waktunya berbenturan dengan aktivitas gereja.
"Terus dia juga bilang ya orang-orangnya dia (peziarah) di situ jam segitu (datang pagi), karena kalau siang sudah panas, nggak datang nanti merepotkan, gitu kan. Terus ya saya bilang, ya sudah sekarang utang saya berapa, saya sampai begitu ya. Kalau dianggap hutang, utangku berapa," ungkapnya.
Petra mengklaim juru kunci menjawab 'terserah' dan tidak menyebut nominal tertentu. Juru kunci juga menyebut penggunaan makam tersebut tidak dikenakan biaya sewa.
Didampingi sejumlah petugas kepolisian, Petra kemudian meminta kondisi makam dikembalikan seperti semula. Ia juga menawarkan sistem berlangganan jasa secara bulanan kepada juru kunci, meski nominalnya belum ditentukan.
Petra kemudian mentransfer Rp500 ribu yang ia anggap sebagai utang kepada juru kunci. Jumlah tersebut belum termasuk biaya perbaikan nisan.
"Dia masih minta uang untuk ndandani (membetulkan makam) itu lho. Kok jadi aku sing nanggung seng ndandani, wong anda sing ngrusak," katanya.
Petra berujar, makam ayahnya adalah yang pertama dirusak oleh si juru kunci. Tapi, menurutnya, si juru kunci bilang pernah ada makam dibongkar karena ahli waris tak memberinya uang.
"Ya kasusnya seperti saya gitu. Ada yang ziarah tapi nggak pernah ngasih uang. Jadi kesalahan saya ke dia tuh enggak pernah ngasih uang gitu lho," ucapnya.
Informasi terakhir yang diterima Petra pada Rabu (12/8), nisan makam ayahnya telah diperbaiki. Meski demikian, ia menyayangkan cara yang digunakan juru kunci. Menurutnya, persoalan tersebut semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang lebih baik.
Ia berharap peristiwa ini ke depan turut memperjelas regulasi terkait lahan pemakaman, termasuk aturan penggunaannya.
Polisi klaim selesai lewat mediasi
Terpisah, Kapolsek Wirobrajan Kompol Arif Darmawan menyebut persoalan tersebut telah selesai melalui jalur mediasi. Petra dan juru kunci berinisial S disebut sepakat memilih jalan damai setelah bertemu pada Rabu siang.
"Sudah selesai, mediasi sudah selesai, dan semuanya sudah buat kesepakatan, berakhir dengan perdamaian, baik-baik semuanya. Jadi kepala nisane juga sudah dikembalikan, dipasang lagi, sudah diperbaiki, sudah pulih seperti sediakala," kata Arif saat dihubungi.
Menurut Arif, kedua belah pihak menyepakati pembayaran 'uang kebersihan' sebagai bagian dari penyelesaian persoalan tersebut. Uang kebersihan itu juga telah dibayarkan Petra dan kesepakatan keduanya kemudian dituangkan dalam hasil mediasi.
Arif menjelaskan, nisan makam ayah Petra sebelumnya memang dilepas oleh juru kunci. Namun, menurutnya, tindakan tersebut dilakukan karena juru kunci ingin bertemu dengan ahli waris.
"Cuma masalah komunikasi aja," katanya.
Terkait status lahan pemakaman tersebut, Arif mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pemiliknya. Namun, pengelolaan makam lama di kawasan Pakuncen dilakukan warga setempat secara turun-temurun.
Arif menyebut pengelolaan tersebut berbeda dengan kompleks makam Pakuncen yang berada di bawah Pemerintah Kota Yogyakarta. Sementara itu, juru kunci berinisial S telah puluhan tahun mengelola makam tersebut. Tugas itu diwariskan dari generasi sebelumnya.
Arif menuturkan, pemberian uang kepada pengelola makam selama ini merupakan kebiasaan para peziarah. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan kebersihan dan perawatan lingkungan makam.
"Ninggali untuk kebersihan seikhlasnya," katanya.
Menurut Arif, Petra sendiri selama ini tetap memberikan uang kepada orang-orang yang membantu membersihkan makam. Hanya saja, ia belum pernah bertemu langsung dengan juru kunci.
"Jadi mungkin sama yang orang-orang di sekitaran melu bersih-bersih itu ditinggali Rp10 ribuan lah ini. Tapi sing khusus sing juru kunci itu enggak kesampaian, enggak pernah ketemu gitu lho," sambungnya.
(kum/dal)

5 hours ago
2

















































