Tiyo Eks Ketua BEM UGM Batal Lapor Polisi soal 2 Pelacak di Mobil

13 hours ago 7

Sleman, CNN Indonesia --

Eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyatakan urung untuk melaporkan ke kepolisian soal temuan dua unit alat pelacak pada mobil yang ia kemudikan tempo hari lalu.

"Saya kira kalau harus melaporkan polisi terlalu banyak hal yang harus saya laporkan. Di banyak tempat, ketika saya keliling ke daerah-daerah itu kan pengalamannya macam-macam juga. Kalau harus saya laporkan, terlalu banyak," kata Tiyo saat ditemui di UC UGM, Sleman, DIY, Kamis (25/6).

Pada dasarnya, Tiyo beranggapan bahwa alat pelacak ini dipasang dengan cara yang paling mudah diketahui oleh sasarannya. Bagi Tiyo, pesannya jelas. Yakni, ke mana pun ia pergi akan selalu dilacak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karenanya, Tiyo enggan menyibukkan diri untuk mencari siapa dalang di balik peristiwa ini. Dari kacamatanya, itu bisa saja dilakukan oleh kekuasaan atau mereka yang ingin membenturkan dirinya dengan rezim.

"Saya juga tidak mau disibukkan untuk mencari siapa yang melakukan ini. Itu bisa dilakukan oleh kekuasaan, bisa juga dilakukan oleh mereka yang pengen membenturkan saya dengan kekuasaan," ungkap Tiyo.

"Saya pribadi mengabaikannya semua, yang penting rakyat tahu bahwa peristiwa ini terjadi dan itu menjadi alarm bagi demokrasi, bahwa mereka yang peduli pada bangsa justru dibayang-bayangi oleh bahaya," pungkasnya.

Sebelumnya,Tiyomengaku menemukan dua alat pelacak yang terpasang di mobil yang dikendarainya pertengahan Juni 2026 lalu. Temuan itu diungkapkan melalui akun Instagram pribadinya setelah ia menerima sejumlah notifikasi dari perangkat pelacak bernama PBX Finder saat melakukan perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta.

[Gambas:Youtube]

Menurut Tiyo, semula ia menyadari kehadiran beberapa orang tak dikenal yang menguntit dan memotretnya secara terang-terangan saat mengisi kegiatan diskusi di Semarang pada Sabtu (13/6).

"Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai," kata eks Ketua BEM UGM periode 2025 itu.

Usai kegiatan tersebut,Tiyoberangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti aksi demonstrasi di Gejayan. Dalam perjalanan, ponselnya menerima notifikasi terkait perangkat pelacak yang bergerak bersamanya. Setelah aksi selesai, ia memeriksa mobil dan menemukan sebuah alat berbentuk kotak bermagnet yang ditempel di bagian belakang bodi kendaraan.

Keesokan harinya, saat kembali menuju Semarang, notifikasi serupa kembali muncul meski alat pertama telah dilepas. Setelah dilakukan pencarian ulang,Tiyomenemukan alat kedua berbentuk lingkaran pipih yang ditempel menggunakan lakban hitam di bagian ban kanan belakang mobil.

Tiyo mengaku sempat khawatir karena tidak mengetahui apakah kedua alat tersebut saling terkait. Ia menduga alat pertama baru dipasang saat berada di Yogyakarta karena kondisinya masih bersih, sementara alat kedua diketahui telah terpasang sejak Jumat (12/6) dan terakhir terlacak diperiksa pemiliknya saat ia masih berada di sebuah hotel di kawasan Tembalang, Semarang.

Setelah berkonsultasi dengan sejumlah pihak,Tiyomenilai pemasangan alat pelacak itu kemungkinan merupakan bentuk intimidasi.

"Saya kira justru itulah letak di mana terornya terjadi. Bahwa ini sengaja dipasang untuk saya ketahui supaya jadi alarm bagi diri saya bahwa ke mana pun saya pergi ada orang-orang yang tahu, ada orang-orang yang mengamati," katanya.

(kum/ugo)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |