Bandung, CNN Indonesia --
Sebanyak 38 jenazah korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat sudah dievakuasi dan diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, per Senin (26/1) petang.
"Jumlah korban yang berhasil dievakuasi hari ini sebanyak sembilan jenazah hingga 18.30 WIB, sehingga total korban yang diserahkan berjumlah 38 sejak pertama kali operasi SAR dilaksanakan," kata Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian, di Bandung, Senin.
Tim SAR akan kembali melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban longsor Cisarua dengan mengerahkan personel gabungan serta 12 alat berat pada esok hari di sejumlah titik terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi kita sudah mendapatkan tiga bantuan alat berat, sehingga untuk pencarian selanjutnya kita dapat mengerahkan 12 unit alat berat," ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi cuaca pada pagi hari menjadi salah satu hambatan proses evakuasi korban longsor. Namun pada siang hari cuaca cerah, sehingga tim SAR memaksimalkan dan mempercepat proses pencarian.
"Untuk hambatan sebagaimana kita tahu tadi pagi cuaca kurang baik, tetapi untuk siang hingga sore hari cuaca cukup cerah," ucapnya.
Ia menambahkan pelaksanaan operasi pencarian akan terus dilakukan hingga 14 hari ke depan sesuai dengan keputusan penetapan status tanggap darurat bencana.
"Sesuai dengan keputusan pemerintah terkait tanggap darurat bencana, operasi SAR direncanakan akan terus dilakukan hingga 14 hari ke depan dan akan dievaluasi pada hari ketujuh," kata Ade.
Klarifikasi 108 orang hilang
Sementara itu Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Jabar Kombes Pol. La Ode Aries El Fathar menyampaikan sebanyak 20 kantong jenazah telah berhasil diidentifikasi dan proses lainnya masih terus berlangsung oleh aparat kepolisian.
"Kami konfirmasi berdasarkan informasi terbaru yang saya terima, sebanyak 20 korban sudah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI dan diserahkan kepada keluarga masing-masing," ucapnya.
Ia mengonfirmasi data awal jumlah pelapor korban hilang mencapai 108 orang, tetapi angka total korban hilang tersebut bersifat dinamis dan tidak pasti, sehingga akan terus diperbarui.
"Angka 108 itu bukan korban hilang, melainkan jumlah masyarakat yang datang ke pos DVI untuk keperluan ante-mortem," ujar Areis.
Ia menjelaskan, satu korban dapat diwakili oleh dua hingga tiga orang keluarga yang datang melapor. Oleh karena itu, jumlah pelapor tidak bisa dijadikan acuan jumlah korban hilang.
"Kami tidak bisa menolak masyarakat yang datang melapor, meskipun tanpa membawa KTP atau KK. Bisa jadi satu nama dilaporkan oleh beberapa orang," jelasnya.
23 TNI korban
Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan 23 personel Marinir menjadi korban bencana tanah longsor yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat.
"Terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun, longsor. Saat ini sudah diketemukan baru 4 personel dalam kondisi meninggal dunia dan yang lainnya belum ditemukan," kata Ali mengutip Antara.
Ali mengatakan prajurit Marinir itu berdada di lokasi tersebut guna menggelar latihan untuk persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.
Saat para personel sedang melakukan latihan, lokasi tersebut kebetulan tengah diguyur hujan selama dua hari.
"Mungkin itu yang mengakibatkan terjadinya longsor, dan itu menimpa penduduk satu desa dan kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana," kata Ali.
Ali melanjutkan hingga saat ini jajaran TNI AL tengah mencari prajurit lainnya yang menjadi korban tanah longsor di Cisarua. Pihaknya telah mengerahkan alat berat dan drone untuk mempercepat proses evakuasi korban.
Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana yang berlaku mulai 24 Januari hingga 6 Februari 2026. Sementara itu, pencarian korban hilang serta penanganan dampak bencana di lokasi kejadian masih dilanjutkan.
(dal/csr/dal)

4 hours ago
4

















































